ceritaceritaku

my stories... my dreams... my imaginations....

Daisypath Ticker

Thursday, August 03, 2006

[Book Review] Night Over Water (Malam di Atas Lautan)

Night Over Water (Malam di Atas Lautan)
Ken Follet
GPU, Mei 2006
68 Hal.


Setelah hampir dua bulan, akhirnya selesai juga baca buku ini. Rada kecewa juga. Ketegangan yang aku pikir bakal mewarnai buku ini, ternyata gak ‘nendang’, gak berasa, justru yang terkesan buku ini penuh dengan affair antar sesama penumpang Clipper. Dan udah bener banget di sampul belakang buku ini dikasih label ‘Novel Dewasa’, karena memang banyak adegan-adegan 17 tahun ke atas, atau bahkan 25 tahun ke atas yang well… digambarkan dengan cukup detail.

Clipper, mungkin bisa disamakan dengan kereta api Orient Express. Pesawat yang megah yang dengan tujuan Inggris – Amerika atau sebaliknya, didesain untuk kenyamanan penumpang yang akan terbang selama 30 jam melintasi Samudera Atlantik. Clipper adalah pesawat milik Pan America. Harga tiketnya cukup mahal, dan memang layanan ini diperuntukkan untuk kalangan atas.

Cerita ini mengambil setting menjelang Perang Dunia, dan mengisahkan perjalanan Clipper yang penuh intrik-intrik di antara penumpangnya. Ada keluarga Oxenford yang melarikan diri dari Inggris untuk menghindar dari penangkapan karena keluarga ini menganut paham fasis. Dalam keluarga ini terjadi pemberontakan dari anak-anak perempuan Lord Oxenford – Elizabeth dan Margaret. Kedua anak perempuan ini hidup dalam tekanan dan kekuasaan ayah mereka. Menjelang hari keberangkatan, Margaret sempat melarikan diri namun gagal. Tapi, Elizabeth berhasil lepas dari kekuasaan ayah mereka dan menolak ikut ke Amerika.

Lalu, ada istri yang melarikan diri dari suaminya, Diana Lovesey. Diana lari dengan kekasih barunya, Mark Alder. Kemudian, ada kakak perempuan – Nancy Lenehan, yang mengejar adik laki-lakinya – Peter Lenehan, yang akan merebut tampuk kepemimpinan di perusahaan sepatu. Dibantu Mervyn Lovesey yang mengejar Diana, Nancy berhasil mencegat Clipper di tempat peristirahatan pertama. Ada lagi, Harry Vandepost alias Harry Marks, pencuri perhiasan yang bergaya. Ada profersor ahli nuklir yang melarikan diri, ada polisi dan tahanan yang berbahaya, ada bintang film bahkan ada anggota keluarga kerajaan.

Perjalanan yang seharusnya aman dan lancar menjadi kacau ketika Eddie Deakin, teknisi di pesawat itu mendapat telepon bahwa istrinya diculik dan penculiknya meminta Eddie mengatur agar Clipper mendarat darurat di tempat yang ditentukan.

Sebenarnya tidak ada penumpang yang merasa terganggu, karena memang tidak ada yang mengetahui kegelisahan Eddie, kecuali Tom Luther, penumpang yang menjadi penghubung Eddie dengan penculik istrinya. Eddie pun harus memutuskan apa yang terbaik yang bisa dilakukannya. Apakah tunduk pada pencuri, tapi mengorbankan kepercayaan kapten pesawat terhadap dirinya karena telah mensabotase bahan bakar, atau mengorbankan istrinya di tangan para penculik yang kasar.

Para penumpang tetap merasa nyaman, bahkan Harry Marks terlibat hubungan dengan Margaret Oxenford, sekaligus juga sibuk mencari kesempatan untuk mencuri perhiasaan milik Lady Oxenford, Mervyn Lovesey dan Nancy Lenehan yang berbagi kamar di dalam suite bulan madu terlibat affair, kecemburuan Diana Lovesey melihat Mark bercakap-cakap akrab dengan Lulu Bell, si bintang film.


















Di bagian-bagian awal setiap tokoh lumayan banyak mendapatkan porsi untuk ‘diperkenalkan’ kepada pembaca. Setiap tokoh utama digambarkan punya latar belakang sendiri kenapa mereka ‘ngungsi’ ke Amerika, selain karena masalah perang.

Baru di bab-bab terakhir, di pemberhentian terakhir, ketegangan memuncak. Ketika penculik datang membawa istri Eddie untuk ditukar dengan salah satu penumpang yang mereka kehendaki. Ternyata, anggapan Eddie kalau penculik itu mengincar Frank Giordano si pembunuh itu salah. Mereka sebenarnya mengincar orang lain.

Aku beli buku ini untuk ‘kenalan’ dengan gaya penulisan Ken Follet, sebelum baca ‘Pilar’ yang super tebal itu. Di buku ini, sepertinya Ken Follet menggambarkan Clipper dengan cukup rinci. Clipper sebenarnya bukanlah seratus persen pesawat terbang, bisa jadi ‘bersifat’ amphibi. Karena Clipper bukan mendarat di lapangan terbang, tapi di dermaga.

Latar yang jadi cerita dalam buku ini sebenarnya menarik, cuma ya itu… aku hanya gak bisa merasakan ketegangan yang ditawarkan.


photo source:
- book cover: Gramedia Online
- clipper: Pan America World Airways

0 Comments:

Post a Comment

<< Home