ceritaceritaku

my stories... my dreams... my imaginations....

Daisypath Ticker

Sunday, January 08, 2006

Imperia

Judul buku ini cukup bikin gue pengen tahu, apa atau siapa sih Imperia itu? Dan setelah tertunda lama, akhirnya gue berhasil menamatkan buku ini. Ternyata Imperia itu adalah nama sebuah patung di Konstanz, Jerman. Patung ‘pelacur’ dan uniknya patung ini, di kedua tangannya, ada masing-masing satu orang laki-laki yang sangat berpengaruh di jamannya. Jadi, ternyata profesi yang ‘dilecehkan’ banyak orang, bisa membuat dua orang pemimpin bertekuk lutut.

Terus apa hubungannya dengan cerita di novel ini? Dari novel ini, ‘dibuka’ seluk-beluk permainan dalam industri musik, dalam dunia jurnalistik, dan dunia seorang diva.

Cerita dibuka dengan pembunuhan seorang laki-laki, yang ternyata bekas pengacara diva yang lagi ngetop banget. Inti novel ini sebenarnya tentang balas dendam dan iri hati. Di tengah-tengah cerita, mungkin bakal sempet nebak siapa pembunuh atau siapa yang ada di belakang pembunuhan itu. tapi, pinternya si penulis, dugaan kita bakal ‘dibuyarkan’ dengan munculnya tokoh lain yang juga bisa jadi tersangka.

Yang kadang bikin males baca novel ini, beberapa tokoh digambarkan ‘sempurna’ banget. Misalnya si Diva, Melanie Capriaci atau disingkat MC (‘maksa’ mirip KD?), perempuan yang cantik banget, diplomatis, punya suami yang pengertian, punya tiga anak, pernikahan yang digambarkan sempurna, dan diam-diam pinter banget. Tapi, ternyata , dibalik yang sempurna itu, MC juga bisa main ‘gila’ sama seorang Jendral. Hmmm, sekilas, mirip Diva di Supernova. MC ini yang ‘nge-fans’ banget sama Imperia. Seolah MC ini ‘jelmaan’ Imperia.

Terus, ada Shalimar, managing director K-Sound, perusahaan yang ngeluarin album MC. Meskipun gak penting-penting amat, tapi lumayan panjang cerita tentang background Shalimar ini. Anak muda, baru umur 23 tahun, tapi udah jadi managing director di perusaahan rekaman top.

Ada juga Stefan, anak muda yang nemenin Wikan jalan-jalan di Konsztan, wartawan yang baru lulus yang awalnya ditugasin hanya untuk wawancara MC sehubungan dengan album terbarunya, malah terlibat lumayan jauh dalam kasus ini. Nah, Stefan ini sebenarnya juga gak penting-penting amat, tapi tetap diceritain dalam porsi yang lumayan (masih wajar sih, dibanding cerita si Shalimar), diceritain kenapa dia bisa jadi gay.

Yang bagus di novel ini, ada adegan percintaan, tapi penggambarannya gak bikin jijik atau vulgar. Adegan percintaan boleh dibilang digambarkan dengan bahasa yang indah. Terus, cara penggambaran waktu Wikan jalan-jalan antara Swiss dan Jerman.. kaya’nya indah banget, sambil sekali-sekali ngebandingin dengan keadaan di tanah air… jadi iri dan pengen liat juga. Yang bagusnya juga, ‘sejarah hidup’ Wikan, gak diceritain berpanjang-panjang dalam satu bagian, tapi ‘tersebar’ di beberapa kejadian yang dia alamin. Misalnya waktu naik kereta, dia inget naik KRL jurusan Jakarta-Depok, atau pas dia cerita kapan dia bisa dapat ‘penglihatan’. Jadi pas gue baca, gue gak merasa ada ‘kesombongan’ dalam cerita itu, seperti bagain Shalimar atau MC.

Dan ending novel ini juga bagus, meskipun ketahuan siapa sih sebenarnya otak pembunuhan itu, dan apa motifnya, gak ada tuh ending dengan cerita penangkapan si pembunuh. Yang ada malah another conspiracy.

Untungnya sih, ada background pembunuhan, kalo gak bakalan cape’ baca riwayat hidup tokoh-tokoh, yang kadang (menurut gue) gak penting. Selain itu, bisa dapet info tentang musik, kaya’ R.E.M, The Doors, atau pemain gitar yang mungkin blom pernah gue denger namanya. Atau juga info tentang buku-buku Gabriel García Márquez, penulis favorit Wikan, si wartawan, atau bahkan sejarah tempat-tempat wisata di Jerman.

06.01.01

0 Comments:

Post a Comment

<< Home