ceritaceritaku

my stories... my dreams... my imaginations....

Daisypath Ticker

Saturday, July 02, 2005

Ungu Violet




… begitu sempitnya waktu, begitu besarnya cinta …

Kalimat di atas yang bikin aku pengen banget nonton Ungu Violet semenjak ngeliat posternya yang gede banget di ujung jl. Sudirman.

Dan waktu di pim kemarin, aku beli bukunya sekaligus nonton filmnya. Dan aku gak nyesel nonton Ungu Violet… karena buat aku punya kesan yang dalemmmmm banget…

Cerita tentang Kalin (Dian Sastrowardoyo), penjaga tiket busway, yang ‘ditemukan’ oleh Lando (Rizky Hanggono), fotografer majalah A+, yang lagi cari model baru untuk dijadiin cover story.

Lando pertama kali ‘menemukan’ wajah Kalin di salah satu fotonya, waktu dia lagi di bis kota memotret seorang pencopet. Tanpa sengaja, wajah Kalin ikut terpotret. ‘Pertemuan’ kedua, waktu Lando sedang membeli tiket busway di tempat Kalin menjaga. Keduanya sama-sama tertegun. Dan dari pertemuan itu, Lando mengumpulkan keberaniannya untuk berkenalan dengan Kalin di sebuah halte.

Tadinya, Kalin sempat ragu untuk menerima tawaran Lando. Tapi, ketika neneknya harus berobat ke rumah sakit karena terpleset di kamar mandi dan butuh biaya banyak, Kalin nekat mampir ke tempat Lando, dan langsung minta difoto. Hasil foto itu terpilih untuk jadi cover majalah A+.

Karena sering barengan, mulai deh, timbul perasaan suka dan sayang. Tapi, Lando -yang baru aja ditinggal sama pacarnya, Rara – sadar kalo hidupnya mungkin gak lama lagi, karena penyakit leukemia yang dideritanya. Jadi, dia terpaksa mengorbankan perasaannya sendiri dan menyakiti Kalin, dia minta Kalin untuk pergi dengan alasan, “Sebenernya gak boleh ada hal-hal lain. Saya cuma manfaatin kamu untuk ningkatin karir saya.” gitu kata Lando. Kalin pergi dengan marah dan bertanya-tanya, “Kenapa kamu, Lando?”

Akhirnya, Kalin jadi fotomodel yang ngetop banget. Sementara Lando, ya masih gitu-gitu aja, malah dia dipecat dari A+ karena gak tepat waktu, atasannya bilang, “Kamu freelance aja, deh…”

Sementara Kalin, sibuk banget dengan seabreg kegiatan yang disusun sama Rizal, manager-nya yang suka sama Kalin. Sekarang Kalin udah tinggal di apartement. Sampai Kalin gak punya waktu untuk nengok neneknya, bahkan di hari ulang tahun neneknya sekalipun. Kata Rizal, “Kamu harus professional.”

Waktu Lando lagi jadi fotografer buat acara kawinan, pas lagi istirahat, dia liat acara infotainment, yang beritanya tentang neneknya Kalin yang meninggal. Nenek Kalin meninggal duduk di kursi sambil meluk seragam Kalin waktu masih jadi petugas tiket busway, dan baru ditemukan 3 hari kemudian. Langsung dia kaget. Lando dateng ke pemakaman, tapi dia ngumpet dibalik pohon. Kalin sempet liat sekilas sebelum dia masuk mobil untuk pulang.

Setelah lewat masa berkabung, akhirnya Kalin mau hang out lagi bareng temen-temennya ke sebuah restaurant. Di sana, ternyata Rizal udah nyiapin kejutan buat Kalin. Rizal ngasih cincin tunangan ke Kalin… tapi pas Kalin mau pake cincin itu (meskipun ragu-ragu), tiba-tiba dia liat Lando ada di pintu masuk resto. Dan Lando masuk, langsung ke meja Kalin, dan bilang, “Ada yang perlu saya ceritakan.”

Kalin keluar, sementara Rizal hanya bisa ngeliat sambil nahan marah plus dongkol. Lando berusaha ngejelasin alasan dia minta Kalin pergi, tapi Kalin rada emosi, dia bilang (ini versi gue sendiri, karena gue lupa kalimat pastinya), “Buat apa kamu datang lagi? Dulu kamu ngebuang saya kaya’ sampah. Sekarang, setelah saya seperti ini, kamu datang lagi, berharap bisa mengais-ngais sisa-sisa sampah yang dulu kamu buang.” Lando sama sekali gak bisa ngomong banyak, kaya’nya dia bilang, “Saya cuma mau bilang, kalo hidup saya gak lama lagi.” Abis itu dia pergi, dan Kalin masuk lagi ke resto, minum wine, terus, sambil bawa gelas (kenapa juga gelasnya harus dibawa ya???), dia keluar, dan teriak, “Lando.” Lando berbalik, dan senyum (duh…. ganteng, euy…)

Waktu Kalin mau nyebrang ke tempat Lando… tiba-tiba… ada mobil yang kenceng, Kalin kaget, sebelum sempet mundur, mobil itu udah nabrak Kalin… Kalin jatuh… dan gelasnya pecah… sebagian pecahan kena ke mata Kalin.

Di rumah sakit, dokter bilang, Kalin buta, tapi bisa sembuh kalo ada yang mau mendonorkan matanya.

Lando rajin menjenguk Kalin, dia selalu bawa bunga. Lando juga mengajak Kalin jalan-jalan di taman rumah sakit. Waktu lagi duduk-duduk, Kalin bilang, “Lando… peluk aku…” Lando langsung meluk Kalin… (ahhh….. this is the most romantic part). Terus, Kalin bilang, dia suruh Lando janji, untuk bertahan, karena Kalin mau pas dia bisa liat lagi, dia masih bisa liat Lando.

Tapi, setelah itu, waktu Lando mau pulang dari rumah sakit, tiba-tiba, dia jatuh di lorong rumah sakit. Waktu Kalin dioperasi, dan berhasil, pertama ngeliat… dia langsung sedih, karena gak ada Lando.

Well… endingnya bisa bikin penonton rada nebak-nebak… apakah Lando udah meninggal? Apakah Lando yang mendonorkan matanya buat Kalin? Atau penggemar Kalin kah yang jadi donor?

Komentar: Aku suka filmnya… aku suka liat Dian Sastro, dia bisa ‘menjelma’ jadi Kalin yang lugu, malu-malu waktu masih jadi penjaga tiket busway, sampai jadi Kalin yang udah jadi fotomodel top dan lebih dewasa. Gimana dia sebagai fotomodel kondang masih meratiin neneknya meskipun hanya lewat telepon. Terus, Rizky Hanggono, hmmm… secara fisik… mungkin karena gayanya yang cool, keliatan banget, kalo Lando itu seperti punya rahasia, seperti ‘memendam’ sesuatu, seperti nahan perasaan.

Adegan yang paling aku suka:
(1) Waktu Kalin lagi nonton fashion show, dia telepon neneknya yang lagi ulang tahun, sendirian di rumah, dengan kado-kado yang dikirim Kalin. Terus Kalin bilang, “Aku kangen sama nenek.” Bikin terharu & sedih…
(2) Waktu Kalin ketemu lagi sama Lando di resto, dia teriak manggil Lando, dan Lando berbalik sambil senyum. Senyum itu, seolah penuh harapan, suka cita, bukan senyum lebar, tapi senyum yang tulus banget….
(3) Waktu Kalin mau casting di agency, ditemenin sama Lando, di lift ada model (Catherine Wilson) yang penampilannya beda banget sama Kalin yang masih polos. Lando ngeliat Kalin rada gugup, terus, dia megang tangan Kalin. Di sini keliatan kalau Lando, selain mau menenangkan Kalin, juga seakan ingin melindungi & mendampingi Kalin…
(4) Waktu Kalin minta dipeluk sama Lando waktu di rumah sakit. Lando meluk Kalin, keliatan sayang banget, meskipun dari matanya Lando, keliatan juga kalo sebenernya hatinya ‘perih’ (duh…)

Satu lagi yang bikin aku suka, setiap Lando ada di atap apartement-nya. Sendirian, menikmati kopi panas, atau baca koran… atau sekedar merenung.. sambil memandang foto besar Kalin di sebuah papan reklame. Kaya’nya membuat kerinduannya semakin menjadi-jadi. Kaya’nya enak banget kalo punya tempat menyendiri seperti itu. Tenang… gak ada yang ganggu.

Selain Dian Sastro dan Rizky Hanggono, pemeran lainnya, ada Rima Melati – yang jadi neneknya Kalin; ada Titi Qadarsih & Ade Irawan – temen main bridge neneknya Kalin; Niniek L. Karim, yang jadi dokternya Lando. Terus, ada Catherine Wilson, model yang muncul sekilas di lift waktu Kalin mau casting ditemenin Lando.

Warna ungu sendiri, mungkin bisa diartiin ‘penyatuan’ dari tokoh Kalin dan Lando. Kalin selalu ditunjukkin dengan karakter warna merah, dia hampir selalu pake maju merah, atau ada unsur merahnya, sedangkan Lando selalu pakai baju biru. Warna merah dan biru kalau disatukan atau dicampur akan jadi warna ungu. Warna cinta gak harus merah or pink… ungu bisa juga ternyata.

Soundtracknya juga bagus… gak hanya lagu Padi, tapi yang lainnya juga keren-keren. Sayang, blom ada cd or kasetnya.

Pokoknya… I love this movie.. jarang-jarang ada filmnya yang bikin aku ‘terbayang-bayang terus…’ Jadi pengen nonton lagi…

05.06.25

0 Comments:

Post a Comment

<< Home