ceritaceritaku

my stories... my dreams... my imaginations....

Daisypath Ticker

Friday, February 10, 2006

[28 Hari Penuh Cerita Cinta] Kasih Tak Sampai

Tetaplah menjadi bintang di langit
Agar cinta kita akan abadi
Biarlah sinarmu tetap
Menyinari alam ini
Agar menjadi saksi cinta kita
Berdua…

(Kasih Tak Sampai – Padi)


Kata siapa kasih tak sampai harus dialami anak-anak muda model Romeo dan Juliet?
Kata siapa kasih tak sampai harus berakhir dengan kematian?
Kata siapa kasih tak sampai harus tentang sepasang laki-laki dan perempuan?

Kisahku tidak begitu… tidak satupun dari hal di atas…

Aku mengenalnya di Bandung. Ketika itu aku menemani suamiku, Mas Aryo dalam sebuah acara yang di adakan oleh kantor suamiku. Ia adalah suami teman kantor Mas Aryo. Tentu saja perkenalan pertama hanya sebatas basa-basi, saling mengenalkan pasangan masing-masing. Hanya sepintas itulah aku mengenalnya. Dari sana kutahu namanya, Danu.

Tapi, aku bertemu lagi dengan Danu di sebuah pesta pernikahan teman kuliahku. Ketika itu aku terpaksa datang sendirian, karena Mas Aryo juga harus menghadiri pesta pernikahan di tempat lain. Kami sepakat datang sendiri demi menghemat waktu dan alasan praktis.

Tak sengaja kami berdiri bersebelahan ketika pengantin memasuki ruangan. Ketika saling celingak-celinguk mencari seseorang yang kami kenal. Tiba-tiba saja, kami saling lihat. Dan tentu saja, saling menyapa. Ternyata dia juga datang sendirian. “Istriku lagi nungguin Dion.” Dion ternyata adalah anak semata wayangnya yang ketika itu sedang sakit.

Sepanjang pesta itu, praktis kami hampir selalu berdiri berdampingan. Kadang-kadang kami bergabung dengan teman kami masing-masing, tapi kadang-kadang kami mengambil makan bersama.

Ketika waktu mendekati pukul 8.30, aku bilang aku harus segera pulang. Dan Danu bertanya, “Sama siapa pulangnya?”. “Naik taksi,” kataku.

Sebagai laki-laki tentulah dia tidak tega membiarkan aku pulang sendiri. Dia menawarkan diri untuk mengantarku. Aku ragu-ragu sejenak, lalu kutelepon Mas Aryo untuk minta ijin diantar oleh Danu, dan Mas Aryo mengijinkan, bahkan Mas Aryo sempat berbicara dengan Danu, Mas Aryo bilang dia amat berterima kasih karena Danu mau berbaik hati mengantar istrinya pulang.

Di jalan, kami berbicara tentang keluarga kami masing-masing. Tapi, lebih banyak Danu yang bercerita tentang Dion, jagoan kecilnya yang berumur 3 tahun. Sedang lucu-lucunya, begitu katanya. Lalu ia bertanya, “Anak kamu sudah berapa?” Aku hanya menggeleng. Dia tampak merasa bersalah, “Ma’af.” Ia menyentuh tanganku sekilas.

Entah dorongan apa yang membuatku tiba-tiba jadi lancar bercerita dengannya. Aku bercerita, tentang pernikahanku yang sudah berusia 5 tahun, tapi masih belum dikaruniai anak. Betapa aku juga merindukan kehadiran anak di dalam keluargaku. Tentu saja aku tidak bercerita tentang masalah di kamar tidur. Itu hanya urusan pribadiku dengan suamiku.

Tiba-tiba saja, aku merasa nyaman bercerita dengannya. Aku merasa menemukan teman bicara yang mengerti perasaanku. Dan sejak malam itu, aku jadi akrab dengannya. Kami sering makan siang bersama, karena tempat kerjanya ternyata tidak jauh dari tempat kubekerja. Mas Aryo tidak keberatan dengan kedekatanku dengan Mas Danu (ehem… sekarang aku tidak hanya memanggil namanya, tapi dengan embel-embel ‘Mas’). Istri Mas Danu juga ok-ok saja. Hanya teman-teman kerjaku, gank ‘Siti Sirik’, mulai menghembuskan gosip yang tidak-tidak. Katanya aku selingkuh lah, aku punya TTM alias Teman Tapi Mesra lah, macam-macam gosipnya.

Acara weekend kami terkadang juga diisi dengan saling berkunjung. Kadang-kadang Mas Danu berserta Mbak Maria – istrinya – dan Dion datang ke rumah kami. Atau gantian kami yang datang ke rumah mereka.

Aku juga sangat senang bercakap-cakap dengan Mbak Maria. Dia ramah dan baik hati. Aku jadi punya teman curhat baru. Pernah sekali waktu aku sakit, dan Mbak Maria dengan telaten mengurusku karena ketika itu juga Mas Aryo sedang keluar kota. Aku merasa nyaman di dekat Mbak Maria.

Ketika Mas Aryo tahu aku sangat dekat dengan Mas Danu, ia tidak merasa keberatan. Tapi, justru kebalikannya, ketika ia tahu aku sangat dekat dengan Mbak Maria, Mas Aryo malah sangat khawatir. Ingin aku tertawa geli karenanya. Aku memang menyayangi Mbak Maria, malah terkadang aku merasa rindu, kangen dan selalu ingin berada di dekatnya.

Tapi, aku coba mengerti kekhawatiran Mas Aryo. Semua ini tidak lain karena masa laluku. Sebenarnya, dulu aku terpaksa menikah dengan Mas Aryo, karena orang tuaku tidak mau menerima punya anak yang tidak ‘normal’. Aku tidak mencintai Mas Aryo, cintaku sudah dibawa pergi oleh seorang perempuan bernama Maura.

Itulah sebabnya sampai saat ini, rumah tanggaku belum dipenuhi tawa ceria anak-anak, langkah-langkah kecil tertatih, karena memang aku tidak bisa melakukannya dengan Mas Aryo.

Tapi, pasti banyak yang bertanya-tanya kenapa Mas Aryo mau bertahan denganku? Mungkin ada yang bilang, “Bodoh banget sih jadi cowok, kaya’ gak ada perempuan lain yang normal!”

Kami hanya bisa tersenyum mendengar omongan orang di belakang kami. Kalau Mas Aryo bisa menerimaku… kenapa aku tidak bisa menerima Mas Aryo yang juga tidak ‘normal’?

06.02.02

0 Comments:

Post a Comment

<< Home